|  | Masih seneng-senangnya motret dengan kamera pinjaman Mahesa, persis seperti anak kecil dapat mainan baru. Kali ini, yang jadi objek foto adalah tanaman (lagi2) yang ada di halaman rumah. Ada yang di dalam pagar, ada juga yang di luar pagar. Paling jauh, ya di depan rumah tetangga. Gak jauh kok, cuma 10 langkah saja. Ternyata, Allah menciptakan banyak hal indah di depan rumah saya. |
 | The 1st | Jul 17, '08 2:45 PM for everyone |
| Start: | Jul 18, '08 3:00p | | End: | Jul 20, '08 4:00p | | Location: | Jakarta Selatan |
Akhirnya, setelah penantian sekian lama. Datang juga masa itu. Semoga diberi kekuatan, ketenangan, kemudahan dan kelancaran dalam bertugas. Saya mulai jadi guru.... Senangnya :)
|  | Waktu rame2 ke Bandung beberapa waktu lalu, saya sempat pinjam kamera Uni Lenggo. Biasanya kamera ditenteng oleh suaminya, uda Ardy atau anaknya, Mahesa. Tapi, pagi itu, ketika masih di depan wisma tempat kami menginap, saya melihat banyak sekali bunga yang indah dan warna warna yang sempurna. Kamera saya pinjam, lalu muncullah beberapa foto berikut. Selanjutnya, hingga siang hari kamera beberapa kali di tangan saya dan saya dapat beberapa foto lainnya. Ternyata, gak hanya sampai di sana saja. Itu kamera sudah saya pinjam lagi untuk foto-foto berikutnya... hehehe... Tunggu saja :) *Allah menciptakan makhluk dengan begitu sempurna. Subhanallah... * |
Semoga panjang umur, sehat, sukses dan bahagia selalu. Amin.
| Start: | Aug 10, '08 11:00a | | End: | Aug 10, '08 1:00p | | Location: | Gramedia Matraman |
Ayo adik-adik.... duduk yang manis. Kakak mau bercerita tentang.... hmm... ayo... mau cerita beruang madu, atau cerita legenda dari jawa tengah?
 (...)
Kakak saya yang nomor 3, biasa dipanggil Da Ded, sama seperti ayah saya. Jagoan bercerita. Cerita biasa dan sederhana, dapat menjadi sebuah kisah yang luar biasa. Pun ketika akhir pekan yang lalu, ketika kami dan kelurga besar menyewa bis berdarmawisata menuju Bandung. Saya duduk di sebelah Da Ded. Salah satu yang diceritakan Da Ded adalah mengenai anak bungsunya yang bernama Farah, yang baru lulus SD.
“Farah itu lugu, jadi sering dimanfaatin teman-temannya,” begitu Da Ded mengawali ceritanya. Farah belum memiliki handphone. Masih kecil dan masih belum perlu. Tapi, Farah boleh meminjam HP ayahnya kapanpun dia mau. Paling-paling cuma SMS saja. Dan semua SMS yang dikirim Farah, ataupun yang diterima untuk Farah, selalu dibaca oleh ayahnya.
Suatu malam, Farah meminjam HP ayahnya untuk kirim SMS. Setelah HP dikembalikan, ayahnya membaca apa pesan yang dikirim anaknya itu, dan kepada siapa ditujukan. Rupanya, SMS terkirim 2 kali dengan pesan yang sama yang berbunyi: “Ningsih menunggu telepon dari kamu”. SMS ini ditujukan kepada sebuah nomor yang tidak ada dalam phonebook. Tetapi, tidak ada reply dari nomor itu.
Menjelang tengah malam, saat Farah sudah tertidur, HP Da Ded berbunyi. Sebuah SMS masuk dari nomor yang tidak dikenal. Bunyinya: "Terima kasih ya Kurir Cintaku. Kau telah menyelamatkan rindu dan harapanku".
Rupanya SMS masuk itu dari nomor yang tidak mereply SMS Farah sebelumnya. Sontak jidat berkerut, bibir merengut. Farah dibangunkan dan diinterogasi. Sambil ngantuk-ngantuk, dia cerita bahwa SMS itu dari “cowok”nya Ningsih, teman sebangku Farah. Artinya Ningsih juga baru lulus SD. Ningsih tidak punya HP, sehingga pesan-pesan disampaikan melalui Farah.
”Begitulah Farah, demi temannya, dia mau berkorban. Bahkan, dimanfaatin temannya pun dia tidak berkeberatan,” cerita Da Ded kepada saya.
Ya… ya…. Termasuk menjadi seorang Kurir Cinta
(PS : si pengirim SMS itu, ternyata tinggal di Malang. Berkenalan melalui Friendster. Dan masih kelas 2 SMP)
 | SARUNG | Jun 25, '08 3:43 AM for everyone |
Menurut saya, setiap rumah pasti ada sarung. Bukan sarung bantal atau guling, tapi sarung yang biasa digunakan untuk shalat. Sebenarnya, gak harus buat shalat khan? Teman saya yang non muslim, juga ada sarung di rumahnya. Gunanya macam-macam. Kadang kala jadi pakaian rumah, alias dipakai saat santai-santai di rumah, bahkan juga jadi pakaian tidur.
Saya termasuk yang jarang pakai sarung di rumah. „Seragam“ rumah saya adalah celana pendek dan kaos oblong. Seragam tidur juga begitu. Berbeda dengan ayah saya yang di rumah pakai celana batik gombrong atau pakai sarung dan kaos oblong putih. Walau jarang pakai sarung, tapi saya memiliki 3 sarung. Umumnya, dipakai kalau sholat saja. Karena di rumah hampir selalu pakai celana pendek, maka pakai sarung saat sholat lebih praktis ketimbang pakai celana panjang. Lebih mudah menyorongkan sarung daripada menyorongkan celana panjang.
Cerita tentang sarung, saya pernah marah besar ketika sehelai sarung tertinggal dalam bis Patas AC 34, jurusan Cimone – Blok M. Waktu itu, teman perjalanan saya teledor. Paper bag yang berisi sarung tertingal begitu saja di dalam bis dan baru teringat ketika sudah mau sholat. Kemarahan saya bukan hanya karena barang tertinggal, tetapi lebih pada nilai sejarah dari sarung yang tertinggal itu. Sarung itu adalah peninggalan ayah saya. Sarung itu adalah sarung kesayangan ayah saya, yang paling sering dipakai untuk sholat di masa-masa akhir hayat beliau. Kalau saat ini saya membayangkan ayah saya, yang tergambar adalah saat ayah saya berdiri di pintu, tersenyum pada saat mengenakan kaos oblong dan sarung yang hilang itu.
Tapi, ada juga sarung yang bisa membuat seorang ibu merasa terharu. Kalau yang ini adalah cerita dari teman kantor saya, yang badung dan sholat seperti singlet alias bolong-bolong. Suatu hari, kami harus ke Bandung untuk suatu cara. Disarankan, semua peserta membawa sarung karena nantinya akan digunakan untuk memeriahkan acara yang sudah disusun panitia. Karena merasa tidak punya sarung, teman saya lalu bertanya kepada Ibunya,”Ma, ada sarung? Mau di Bawa ke Bandung.” Hanya itu percakapan yang terjadi. Selanjutnya, si Ibu teman saya itu datang menyerahkan sarung. Matanya menatap sang putra dengan penuh kebanggaan. Tak lama kemudian, air mata terlihat sekilas menggenang di peluk mata sang Ibu. Teman saya bengong dan buru-buru beberes. Sampai di Bandung, baru dia ‘ngeh’ kenapa sang Ibu bertindak demikian terharu ketika menyerahkan sarung.
Dan teman saya bercerita terkekeh-kekeh.... bangga bisa membuat Ibunya terharu hanya karena membawa sarung...
Di kantor saya, ada yang bernama Pak Parjan. Kerjaan beliau adalah di bagian belakang, alias urusan dapur. Sudah cukup sepuh, 50an tahun. Tapi rajinnya bukan kepalang. Tidak pernah mengeluh dan tidak pernah juga mangkir, apalagi kurang ajar. Ada tamu, ya pasti teriaknya Pak Parjan. Lapar pengen makan ini itu, teriaknya juga Pak Parjan. Saya termasuk yang suka panggil nama beliau untuk menyelesaikan urusan perut.
Waktu baru-baru masuk, teman sebelah saya bilang bahwa Indomie Pak Parjan itu enak. Saya cuma senyum aja. Indomie, ya begitu-begitu saja. Masak air, cemplungin, diemin 3 menit, campurin bumbu. Beres. Tambahin telor, itu juga sudah standart. Kadang tambahin sayur-sayur ijo atau cabe rawit diiris. Udah, gak lebih gak kurang.
Sekali dua kali pesen Indomie lewat Pak Parjan, akhirnya saya kecanduan. Emang enak dan beda rasanya. Kadang, meeting dengan tamu pun saya tidak sungkan-sungkan menawarkian Indomie Pak Parjan kepada mereka. Client saya, bahkan pernah pesen khusus Indomie Pak Parjan ini agar dibawain ke kantornya.
Sudah beberapa hari ini Pak Parjan gak masuk. Sakit. Apakah saya berhenti makan Indomie? Tentu tidak hehehe… urusan dapur khan tidak hanya Pak Parjan. Ada Ishak yang pastinya juga bisa bikin Indomie. Sore ini, saya pesan lagi melalui Ishak. Indomie goreng, pake telor dan irisan cabe rawit plus sayur secukupnya. Gak sampai 10 menit setelah pesan, pesanan saya diantar oleh Ishak.
Nyam nyam nyam….. Kok beda ya rasanya sama Indomie Pak Parjan? Kenapa ya? *) Menyebut kata "Indomie" tanpa maksud beriklan.
Saya senang punya nama Rinto. Pertama, tentu saja karena nama itu dipilih dan diputuskan langsung oleh Ayah saya. Ibu saya, menurut cerita beliau, manut saja karena cocok dan merasa pas untuk anaknya yang lahir dengan berat 3,75 kg dan panjang 52 cm. Bayi besar itu akan tambah gagah dengan sapaan Rinto. Mungkin itu yang dipikirkan oleh beliau. Arti kata RINTO sendiri, saya tidak paham. Ayah saya memang pernah bercerita bahwa nama itu terinspirasi dari nama seorang kenalan beliau, yang sampai sekarangpun saya tidak pernah tau siapa itu. Pastinya bukan Rinto Harahap, karena kelompok The Mercy's pun belum populer saat itu. Alasan selanjutnya, kenapa saya senang bernama Rinto adalah karena bertahun-tahun saya tidak punya 'kembaran nama'. Mulai dari tingkat TK, SD, SMP dan SMA, selalu saja hanya ada 1 Rinto di sekolah saya. Ketika mulai kuliah dan pindah dari Padang ke Semarang, saya berpikir akan punya 'saudara kembar nama' karena Rinto terdengar seperti nama Jawa. Tetapi saya keliru. Rinto, tetap hanya 1. Kalau mirip-mirip, memang ada seperti Rianto atau Arinto. Kalaupun ada nama Rinto yang disebut-sebut, itu adalah Rinto Harahap, sang pencipta lagu handal itu. Bahkan, jaman itu nama Rinto sering disebut dalam istilah "body Rambo, hati Rinto" untuk orang yang berbadan kekar, tetapi berhati halus, mendayu dan cengeng seperti lagu-lagunya Rinto Harahap. Pastinya, istilah itu mengacu pada Rinto Harahap, bukan pada saya (hahaha...) Hingga suatu saat, ketika harus menyelesaikan skripsi dan melakukan survey ke sebuah majalah di Jakarta. Saya harus berhubungan dengan Rinto pertama selain saya, yang ternyata seorang wanita. Sayangnya, waktu itu hanya komunikasi melalui telepon saja, karena berkas-berkas survey dititipkan di meja depan alias receptionist. Mbak Rinto itu, ternyata tidak tertarik bertemu dengan Mas Rinto. Waktu berjalan terus, banyak hal berubah, banyak hal baru. Saya mulai kenal Friendster, situs pertemanan dunia maya. Yap, ada banyak nama Rinto rupanya di sana. Dan bulan April lalu, saya bertemu dengan salah satu Rinto yang awalnya hanya saya kenal melalui dunia maya. Aneh rasanya, ketika bertama kali kami berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing. Rinto dan Rinto, sesekali ngobrol dan ngopi-ngopi bareng. Rupanya, dugaan bahwa nama Rinto itu sedikit alias jarang, ternyata keliru. Bulan lalu, ketika memberikan pengarahan kepada event organiser yang akan membantu kegiatan client saya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, salah satu pengurusnya bernama Rinto. Minggu lalu, ketika kabur dari meeting di Bandung, saya dan 3 teman lainnya duduk makan bubur ayam tengah malam di depan Hotel Savoy. Dan tukang bubur ayam itu bernama Rinto. Tuh... banyak khan? Oh iya, ada yang terlupa. Beberapa tahun lalu, saya membaca sebuah plang nama di Bandung juga. Tertulis Rinto and Friends. Tapi saya tidak bertemu dengan pemilik plang itu. Walaupun sangat memungkinkan untuk potong rambut atau creambath di sana karena plang itu adalah papan nama salon.
Rabu lalu, saya diajak oleh Donni Said untuk ikutan siaran IndoPro, di RRI Pro2 Jakarta. Bagi saya, hal ini tentu sangat menyenangkan karena bisa kembali merasakan “harumnya” studio siaran di lantai 6 yang dulu saya sambangi 2 kali seminggu di petengahan tahun 90an.
Malam itu, siaran membahas tentang lagu-lagu yang dinyanyikan ulang oleh penyanyi lain, tapi masih sama-sama pada kurun waktu 80an. Malam itu, selain Lia dan Yudi yang menjadi host acara tersebut, juga hadir teman-teman dari milis 80an, yaitu Elvi dan Dini.
Selesai siaran, ngobrol-ngobrol sebentar, lalu kami pamit. Saat itu, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam lewat. Gedung RRI tempat studio siaran itu berada, terasa sepi, dingin dan redup. Ber 4 kami masuk lift menuju ke lantai 1. Mungkin karena capek dan ngantuk, Donni Said bersandar di dinding lift. Tanpa sadar, tas ransel yang disandangnya memencet tombol-tombol angka di lift. Yang seharusnya cuma menyala di angka 1, tetapi karena tidak sengaja, lampu angka 2 dan 4 juga menyala. Dini kumat iseng, ”Khan ber 4, jadi lampunya menyala juga 4”. Dan dipencetlah angka yang mengacu ke lantai 4, walaupun tidak ada yang akan turun di lantai tersebut. Pastilah, ketika sampai di lantai 4, lift berhenti dan pintunya terbuka.
Mendadak kami berempat terdiam di dalam lift karena pemandangan lantai 4 yang kami saksikan bukanlah pemandangan yang sedap untuk ditatap. Gelap, kotor, kumuh dan kuno. Giliran saya yang kumat iseng,”Awas, awas. Ada yang masuk,” ujar saya tetap dengan geraham teraut dan bibir tak bergerak, sambil melirik sekilas ke arah Elvi dan Donny. ”Siapa Darin?,”tanya Donny ”Jangan lihat, jangan lihat,” ujar saya sambil menarik Dini yang berdiri di sebelah saya agar lebih merapat. Dini manut saja, sambil berujar,” Hiiii....” Lift bergerak lagi, dan sampai di lantai 3. Karena lampunya juga terpencet, maka lift pun berhenti dan terbuka di lantai 3. Setelah menarik nafas lega, saya berkata,”Udah keluar... udah...”
Donni : Uda bisa lihat ya? Saya : (mengangguk) Elvi : Emang tadi ada dimana dia? Saya : Di sebelah Dini, makanya aku narik Dini supaya mendekat. Elvi + Donni : Orangnya kaya apa? Gede ya? Saya : Iya gede, tinggi tapi saya gak berani lihat. Serem. Dini : Ada berapa? Saya : Dua, keduanya melihat ke kamu. Cuma melihat saja, bukan nakut-nakutin. Dini : Hiiii...... kok ngedeketin aku ya? Saya : Ya iyalah, bukan iya dong.... Mulan khan jamillah, bukan jamidong.
Lalu kami ketawa-ketawa lagi karena sudah tiba di lantai 1 dan langsung menuju mobil. Menjelang sampai di mobil, perbincangan soal hantu berlanjut lagi : Elvi : Pantesan aku merasakan ada angin yang ikutan masuk. Dini : Iya, aku merinding pas pintu tadi terbuka Donni : Emang Uda bisa lihat ya? Saya : Bisa. Makanya kita bisa sampai ke sini. Kalau gak bisa melihat, nabrak-nabrak terus dong sambil nyetir. Donni : Serius nih... Saya : Ya, serius. (tersenyum)
Dalam suatu acara kumpul-kumpul, setelah lelah tertawa dan bercanda dengan teman-teman baru, seorang perempuan muda, berumur awal 20an, menepuk bahu saya dan bertanya “Lu udah lama ngempi?” Sontak saya kaget, seorang gadis muda yang baru kenalan beberapa menit sebelumnya, tiba-tiba bertanya tanpa etika. Tapi dengan secepat kilat saya bisa menjawab dengan tenang sehingga membuat si gadis muda itu senang dan kita melanjutkan pembicaraan kesana kemari, hingga akhirnya dia tau perbedaan umur antara saya dan dia.
Berbicara dengan sapaan “lu/loe - gua/gue” memang bukan kebiasaan saya. Bahkan kepada yang lebih mudapun, saya tetap lebih senang dan lebih sering menggunakan sapaan, atau menyapa dengan nama lawan bicara saya. Menyapa dengan ‘loe’ atau ‘lu’ kepada lawan bicara yang lebih tua, bagi sebagian orang memang tidak sopan. Bagi sebagian lain, tidak masalah. Di sebuah kantor, bahkan sang boss juga boleh disapa dengan ‘loe’ atau ‘lu’ dan lazim saja bicara dengan ber ‘gue’ untuk menyebut diri sendiri.
Saya menilai, sejauh sikap masih baik, masih hormat, dan masih respek, tidak selamanya hal itu buruk atau disebut kurang ajar. Contoh lain adalah Fuad Hassan almarhum (mantan Mendikbud, salah satu tokoh yang saya kagumi), yang disapa “Fuad” oleh anaknya, bukan menyapa dengan sapaan Ayah, Papa atau Bapak. Bukan berarti berarti anaknya kurang ajar, tapi memang ada alasan untuk sapaan seperti itu. Yang terpenting adalah respek, sikap dan rasa hormat.
Sampai saat ini, telinga saya masih merasa ganjil, jika ada anak muda (anak kecil, kadangkala) yang menyapa saya dengan menyebut ’lu’ atau ’loe’. Masih belum terbiasa saja. Tapi, selalu ada alasan dibalik sebuah tindakan khan? Saya menyabarkan hati dengan alasan sebagai berikut : 1. Si anak muda merasa akrab dengan saya 2. Si anak muda merasa saya seumuran dengan dia (maaf, anda tertipu!) 3. Si anak muda merasa dia sudah seumuran dengan saya (gak banget!) 4. Saya terlihat lebih muda (maaf, banyak yang berkata begitu)
|  | Bekerja di kantor yang sekarang, memungkinkan saya untuk berkenalan dengan beberapa ilustrator, yang konon, punya kemampuan untuk melukis wajah. saya tak menyia-nyiakan kesempatan untuk dilukis juga, oleh 3 dari 6 yang saya kenal. Ada yang mirip? |
Hari Senin kemaren, saya diundang meeting oleh client di sebuah hotel berbintang di wilayah Jakarta Selatan. Meeting diikuti oleh 12 orang, terdiri dari client serta beberapa kolega bisnisnya, termasuk saya dan team kerja saya. Di sebelah saya duduk seorang pria, bernama Alvin, yang sedang menjalankan ibadah puasa sunnah, puasa Senin Kamis. “Baru 1 bulan,” katanya.
Meeting tersebut ditutup dengan makan siang. Kami, semua peserta meeting, berpindah tempat ke ruang makan yang terletak di Mezzanine Floor. Tentu saja termasuk Alvin. Pada saat makan siang berlangsung, Alvin tetap bergabung bersama kami yang mencicipi berbagai macam makanan yang disajikan secara buffet itu. Saya sempat berbisik,”Semoga pahalanya nambah”. Dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Alvin, sambil bibirnya bergerak mengucapkan kata Amin.
Peristiwa yang lebih kurang sama, pernah saya alama beberapa tahun lalu. Waktu itu, bulan puasa Ramadhan, saya diajak oleh boss saya, untuk bertemu dengan rekan bisnis. “Kita lunch meeting sama Pak Paul,” kata boss saya yang orang China Medan. Sedangkan Pak Paul itu Manado. “Tapi kamu puasa, gimana ya? Saya perlu kamu ikut,”lanjut boss saya lagi. “Gak apa-apa Pak, “jawab saya. “Saya puasa sudah duapuluhan tahun, mudah-mudahan tidak tergoda.” Meeting siang itu dilaksanakan di sebuah restoran steak di wilayah Harmoni. Boss saya dan Pak Paul itu memesan steak yang terlihat lezat. Tapi saya, yang pada dasarnya tidak terlalu suka steak, tidak tergoda, tidak terbit liur apalagi nge-ces melihatnya….. Sesekali saya ikut menimpali perbincangan di lunch meeting itu. Tugas utama saya memang mencatat pembicaraan kedua pria yang tak berpuasa itu.
Meeting selesai, ngalor ngidul sudah beralih kepembicaraan yang ringan. Makan besarpun sudah selesai, berganti dengan pemesanan hidangan penutup. Nah, ini dia….. mereka memesan ice cream. Duh…. Iman saya mulai goyah. Tidak kuat, benar-benar tergoda. Untunglah, puasa tidak membuntukan otak untuk cepat bertindak. “Maaf pak, ada lagi yang perlu saya catat? Saya mau permisi sholat dulu, sebentar”, ujar saya mencari alasan yang masuk akal dan sebenarnya, walau menyembunyikan kenyataan yang sesungguhnya. Cukup lama saya di tempat sholat waktu itu. Berulang-ulang membaca dzikir dan berdoa, sambil berharap semoga pas balik ke meja lagi, semua makanan itu sudah bersih.
Ternyata, saya mudah tergoda oleh ice cream. Bagaimana dengan Anda?
 | Coba aja | Apr 18, '08 4:48 AM for everyone |
Lagi jenuh aja di kantor, tiba-tiba ada teman yang kirim email terlampir. Seru aja, lucu2an.
Cobain deh. Seru!
1. CLICK ON THIS SITE : http://www.tatuagemdaboa.com.br/
Wait for the lady to appear, then ...
2. Write your FIRST NAME in the 1st LINE.
3. Write your FAMILY NAME in the 2nd LINE
4. Press the VISUALIZAR bar.
Unbelievable. Can you explain how this is done ?
Ya, malam ini saya dipanggil sama si Boss. Katanya, Head Office kita yang di seberang itu mau bikin struktur yang lebi ramping. Jadi "Kamu harus pilih si A atau si B", karena hanya 1 orang saja yang masuk dalam struktur baru. Duh.... kenapa harus niban kepala ini ya?
Secara baru 2 bulan (belum ding, baru 1 kali trima gaji) di sini, pastinya saya masih belum bisa menilai dengan tepat, siapa yang layak masuk dalam team dan siapa yang harus tersingir. Secara baru 2 bulan, saya baru mulai 'tune in' bergaul dan bekerjasama dengan si A maupun si B. Duh.... kenapa harus niban kepala ini ya? Secara baru 2 bulan di sini, pastinya di benak si A atau si B akan muncul pertanyaan "Harusnya dia saja, khan probationnya belum selesai" A dan B sayang, I love you both.... Tapi saya harus memilih.
Maafkan saya. Ini bukan maunya saya. B, mulai tanggal 1 Mei, kamu pindah ya. Siap tidak siap, hadapi dengan senyum. Ini bukan kehendak saya. Kita bekerja di perusahaan ini, dan kita harus patuh pada peraturan perusahaan. B, jangan sedih. Ini bisa menimpa siapa saja, bahkan juga saya, bahkan juga si Boss gede itu. Hadapilah B. Maafkan saya
Pagi tadi, lagi di kamar mandi. Sempat memandang wajah di cermin kecil. Ya ampun.... Itu bulu hidung udah pada gondrong. Cari-cari gunting kecil yang biasanya ada di kamar mandi, kok gak ketemu ya? Baru teringat bahwa kemaren saya menyuruh si Eko (yang bantu-bantu di rumah) untuk membersihkan kamar mandi. Mungkin gunting kecil yang emang buat bersihin bulu hidung itu, dipindahin sama si Eko. Karena Eko lagi saya suruh ke warung, saya berpikir nanti aja deh, kalau Ekonya udah pulang.
Urusan bulu hidung itu ternyata terlupa. Baru teringat lagi waktu sudah sampai di jalan Tol BSD. Salah tingkah semakin menjadi karena hari ini ada meeting penting dengan client. Masa meeting dengan bulu hidung gondrong? Sambil nyetir, saya meraba-raba si gondrong nakal yang beberapa helai suka nakal, melipir keluar dari hidung. Saya cabut aja. Perih. Cabut lagi, lebih perih, karena tercabut 2 helai. Ada yang kasar dan ada yang halus. Raba-raba lagi, tarik lagi. Tercabut sampai ke akar. Kalau dapat yang kasar, tidak terlalu perih. Tapi kalau dapat yang halus, mungkin masih muda dan belum 'nakal' sebetulnya, hidung ini jadi perih. Memerah. Dan mengeluarkan air mata.
Pagi ini, sambil nyetir saya menitikkan air mata. Bukan karena sedih, tapi karena perih. Demi gaya dan kerapihan di mata client... huahahaha.... !!!!
Aku tidak akan cemburu Sekalipun kau bercinta dengan yang lain Karena aku juga bisa melakukannya Tapi aku akan meradang, gila Apabila kau tidak memberikan aku cinta lagi Karena cintaku banyak teramat banyak untuk mu Dan tidak akan habis
Perempuan 3 Suami saya selalu menyimpan semua pemberian saya. Beberapa tahun lalu, saya memberikan sebuah bantal berwarna pink, berbentuk hati, dengan tulisan I LOVE U sebagai hadiah Valentine. Maksud saya agar bantal kecil tersebut diletakkan di mobil, dan sewaktu-waktu bisa dia lihat serta akan teringat bahwa ada saya yang selalu menanti kepulangannya dengan selamat. Memang sih, hingga saat ini bantal kecil itu masih tersimpan di dalam mobilnya, tapi di bagasi belakang. Dan masih dalam kotaknya. Perempuan 4 Kado Valentine saya untuk suami adalah sebuah selimut cinta. Ya, selimut berwarna pink. Saya memilih selimut cinta itu sebagai hadiah Valentine, agar kami berdua selalu “dibungkus dan dihangatkan” oleh cinta. Pink itu warna cinta khan? Tapi selimut itu lebih sering terlipat dalam kantong plastiknya. Selain suami tidak biasa tidur pakai selimut (geli, katanya), warna pink itu juga membuat dia merasa girly. “Kamar kita seperti kamar anak gadis remaja,”katanya. Perempuan 5 Hubungan saya dan kekasih sedang tidak mesra. Beberapa hari setelah malam tahun baru, kami bertengkar hebat. Lalu kami sepakat untuk sama-sama cooling down dan introspeksi diri. Kami sengaja membuat jarak karena, konon, jarak dapat mengukur kekuatan cinta. Benar juga sih, saya selalu merasa kangen dan membutuhkan dia. Begitu juga sebaliknya. Dari SMS yang dia kirimkan untuk saya, walau hanya sebuah ungkapan sederhana, tapi bisa masuk pagi siang sore malam, bahkan dini hari. Saya jadi yakin bahwa dia juga kangen dan membutuhkan saya. Hingga tanggal 14 Februari lalu, tepat hari Valentine, saya menerima sebuah buku dari dia. Judulnya “Getting Unstuck” Bukan buku itu yang jadi masalah. Tapi tulisan tangannya, yang dia ditulis di buku itu “Happy Valentine cantikku. Bacalah buku ini. Resapi. Aku yakin kamu akan berubah.” Mendidih rasanya dada ini. Harusnya dia yang berubah bukan aku. Harusnya dia yang baca buku ini, bukan aku!!! Permpuan 6 ….. Perempuan 7….. Perempuan 8 ….. dst… dst (To be continued)
Hari Valentine sudah lewat. Saya tidak merayakannya. Tapi saya mendengar beberapa kisah tentang pengalaman Hari Valentine dari beberapa perempuan. Ini kisah mereka. (kisah-kisah ini ditambahi bumbu-bumbu penyedap rasa) Perempuan 1 Sehari sebelum Valentine, saya browsing internet untuk mencari inspirasi cara mengungkapkan rasa cinta saya untuk suami. Akhirnya, saya menemukan cara sederhana, manis dan tidak terlalu rumit. Cukup mengirimkan Love Quotes atau kata-kata cinta yang dilengkapi gambar-gambar romantis. Awalnya saya berpikir pasti norak. Tapi, mana ada ungkapan cinta yang tidak norak? Akhirnya, saya menyelesaikan Love Quotes hasil karya saya yang berisi kata-kata cinta untuk suami plus foto saya dan dia. Kemampuan Photoshop saya yang sangat terbatas ternyata menghasilkan karya yang menurut saya lumayan indah. Saya simpan karya saya dalam sebuah amplop berwarna pink. Llalu ketika tengah malam, saat suami sedang tidur, amplop pink itu saya selipkan dalam laptop suami. Seperti biasa, setiap pagi suami pasti akan membuka laptop, sekedar untuk cek email yang barangkali masuk pada malam hari. Dan tanggal 14 Februari pagi, pas Hari Valentine, tidak ada reaksi apapun dari suami ketika dia mulai membuka laptopnya, seolah-olah tidak ada amplop pink yang saya selipkan semalam. Karena penasaran, saya nekad bertanya,”Sayang, kamu gak liat ada sesuatu di laptop kamu?” “Lihat,” jawabnya tanpa ekspresi. Matanyapun tidak menatap saya. Dan diantara suara-suara keyboaard, terdengar dia berkata,”Kamu ada-ada saja. Kaya anak ABG”. Matanya tetap menatap layar monitor laptop. Saya tertunduk, lemas. Berjalan ke dapur, dan menangis. Perempuan 2 Saya paham betul, bahwa kami (saya dan kekasih saya) tidak akan merayakan Hari Valentine. Ini adalah tahun ke 3 kami bersama dan setiap Hari Valentine pasti berlalu begitu saja. Tapi tahun ini sangat berbeda.Tepat tanggal 14 Februari, ketika masih di kantor, saya mendapatkan kiriman bunga putih dan sebuah kartu ucapan sederhana yang berbunyi “Happy Valentine, I Love U”, lalu tandatangan kekasih saya. Tiba-tiba pandangan saya buram karena air mata menumpuk di pelupuk. Saya terharu. Saya langsung angkat telepon, menghubungi dia. Tapi, belum sempat saya berkata apa-apa, dia sudah berkata,”Nanti telepon lagi ya. Saya lagi meeting”. Saking senangnya, saya lalu mengirimkan SMS. Selain mengucapkan terimakasih, juga kata-kata cinta yang menggambarkan betapa saya sangat senang dan sangat mencintai dia. Sore beranjak malam, saya bersiap-siap meningglkan kantor. Jujur saja, saya berharap kekasih saya tercinta mengajak bertemu lalu jalan bareng, makan atau nonton untuk merayakan hari kasih sayang. Tapi sudahlah, bunga yang saya terima tadi siang sudah lebih cukup. Seperti biasa, saya kirim SMS lagi sebelum pulang. Hanya berkabar bahwa saya akan meninggalkan kantor. Setelah sampai di rumahpun, saya kirim SMS lagi, berkabar bahwa saya sudah di rumah. Tapi, ada yang tidak biasa kali ini. SMS saya tidak terbalaskan sama sekali. Lalu, saya kembali menelepon dia. “Halo,” terdengar suara dia diantara suara-suara dan gelak tawa di belakangnya. “Kamu dimana?” tanya saya penasaran. “Lagi sama teman-teman kantor, merayakan Valentine,” jawabnya ringan, riang. Kembali, pandangan saya buram, air mata menumpuk di pelupuk. Saya sedih.
 | Guestbook | |
 |
terima kasih ya mas. sdh mampir dan mengundang saya jadi teman... |
 |
Pak Rinto ...Terima kasih |
 |
hai hai, makasih juga sudah berkunjung di halaman MP-ku yang jarang diupdate. Kecuali di bagian foto yang rada sering ditambah koleksinya.
Maklum aku bukan tipe penulis diary online. Meski punya ribuan tulisan berbentuk artikel, feature, dan berita aneka topik.
Btw, senang bisa nambah teman. Dan MP-mu menarik, setidaknya dari beberapa coretan yang sempat kubaca. Nanti kalo pas senggang, aku akan telusuri lebih dalam. Dan mungkin ikut meninggalkan jejak :)
astari
|
 |
saya sudah mampir. tapi ini sudah larut, subuh bahkan. 3.15 di jam tangan saya. maaf, tidak bisa menginap. tapi saya bawa oleh-oleh, tips memasak indomie rebus yang -- setidaknya bagi saya -- enak.
hihihi -salam kenal- |
 |
iya nich. gak pernah gw segila ini ama penyanyi, selain Atiek CB. kalo ada info ttg-nya, bagi2 yah;-) |
 |
On July 15th, 2008, Ubud Royal Family will escort three of their elders in completing their roles in the circle of life. Many call this event the Royal Cremation Ceremony (Pelebon). Some call it a journey back to purity and nirvana. Whatever the name, this promises to be an unforgettable event click link below http://www.facebook.com/home.php#/event.php?eid=20041046269&ref=nf |
 |
jadi ini tuh ex boss di mananya nech... rri jakarta atau pro2 jakarta??? sape nech....??? |
 |
Selamat pagi mas.... wah asyik juga ya baca blog nya.... |
 |
makasih udah mampir ke Rute aku, Bang Rinto ;) sering-sering main yah... |
 |
TQ for invite Bro Viva viva |
 |
iseng blogwalking ga sengaja mampir di blogdrive sebelas4.. blogwalking lagi dari blogdrive ke blogspot hingga ke sini.. tulisannya bagus, Bang.. |
 |
halo sebelas4. salam kenal dari sebelassembilan :D |
 |
Mas dimana dirimu,g pernah ktemu lagi kita? |
 |
daa..selama ini ternyata blom jadi kontak ya...???...aduh aduh... |
 |
Trima kasih buat invite-nya..............salamm |
 |
waalaikum salam... halah katanya belanja ma cewe ga masuk akal ;P waalaikum salam entar disampein salamnya :)) |
 |
ih mampir-mampir doang ... gak ngomong apa2 :( |
 |
Assalamualaikum darin. a kabanyo? lai rancak.. salam 80an yo dr urang awak nan tingga dibogor |
|
|