|
Berkantor di segitiga emas ibukota, adalah impian saya sejak kuliah dulu. Kesampaian sudah beberapa tahun belakangan ini. Jujur saja, tak ada bedanya berkantor di tengah segitiga atau di luar segitiga. Yang paling menentukan toh bukan lokasi, tetapi apa yang kita kerjakan dan bagaimana hasil pencapaian dari kerja tersebut. Kalau dibilang menyenangkan, barangkali soal kegiatan di luar kegiatan kantor, seperti lebih mudah bertemu teman-teman. Inilah yang menyebabkan saya bertemu kembali dengan Bonjes, teman mengaji saya waktu di kampung dulu. Bagi yang belum pernah membaca cerita saya sebelumnya tentang Bonjes, mari ikuti penjelasan singkat ini. Bonjes (entah siapa nama aslinya) tiba-tiba hadir dalam kehidupan saya tanpa sengaja. Dia bilang dia adalah teman mengaji saya di mushola tak jauh dari rumah keluarga saya di Padang. Agak susah bagi saya mengingat-ingat siapa sesungguhnya dia. Selain sudah puluhan tahun berlalu, Bonjes rupanya bukan teman sepermainan saya. Cuma, karena pintar mengaji dia ‘selevel’ dengan saya, walaupun sesungguhnya umurnya beberapa tahun di bawah saya. Setelah beberapa kali bertemu dan bertukar cerita, mulailah terkuak siapa seungguhnya Bonjes ini. Masa kecilnya memang tak banyak cerita. Dia pendiam, gemuk, keriting, berkacamata, tidak banyak bergaul. Datang mengaji sesaat sebelum shalat Ashar dimulai, dan langsung pulang ketika pelajaran mengaji usai. Ya, begitu saja. Dan sekarang, Bonjes tinggal di Beji, Depok. Pekerjaannya saya tidak tau persis. Banyak sekali yang bisa dia kerjakan. Terkadang ikut kampanye dan menjadi tim sukses calon bupati di Sumatera Barat. Bonjes bisa juga berada berminggu-minggu di kampung karena membantu program calon bupati, walikota bahkan sampai ke provinsi Riau. Gak heran sih, karena orang-orang di Riau kebanyakan adalah orang-orang dari Sumatera Barat juga. Tidak hanya kancah politik, Bonjes juga “bermain” dalam banyak kegiatan sosial. Ketika gempa besar di Sumatera Barat lalu, Bonjes termasuk orang yang paling sibuk. Konon, berhari-hari dia seolah menjadi bayangan Gubernur. Selalu bersama kesana kemari, termasuk ketika bertemu Menteri Sosial dan Presiden SBY. Hebat bukan? Masih belum hebat sebenarnya, karena Bonjes hapal semua pengusaha-pengusaha sukses ibukota yang memiliki darah Minangkabau. Bahkan, kunjungan bisnis ke luar negeripun dia kerap ikut serta. Tak hanya rombongan pengusaha (terkadang menemani istri-istri mereka), Bonjespun serap melanglang buana bersama artis-artis kenamaan. Kabarnya, Bonjes yang menemani Manohara ketika ia membeli tas jinjing yang harganya selangit itu. Saya kebanyakan mengangguk-angguk saja, ketika Bonjes bercerita tentang kegiatannya. Kekaguman bercampur takjub luar biasa dan hampir di luar kesanggupan daya pikir, membuat saya hanya bisa mengangguk-angguk saja. Dua hari lalu, Bonjes datang ke kantor saya bersama anaknya yang bungsu. Andira namanya. Saat itu, menjelang pulang kantor dan Jakarta diguyur hujan. Dengan alasan ingin berteduh, Bonjes mampir ke kantor saya. “Taragak bana ambo, lah lamo indak basuo Abang,” ujarnya menyampaikan kerinduan dan ingin bertemu. Bergegas saya menyelesaikan pekerjaan kantor, lalu mengajak Bonjes dan Andira menuju sebuah restoran yang nyaman dan menyenangkan di jalan Sabang, Jakarta Pusat, tak jauh dari kantor saya. Saya tahu dan sangat yakin, Bonjes selalu senang diajak makan enak. Apalagi kalau ditraktir. Siapa yang tidak sih? J Selesai memesan makanan, Bonjes bercerita tentang nilai rapor anak laki-laki satu-satunya, Andira. Berapi-api dia bercerita bagaimana pencapaian nilai yang diraih anaknya yang masih kelas 5 SD itu. Rupanya, Andira membawa rapor kebanggaan ayahnya. Sayapun terbelalak menilai nilai-nilainya. Angka 9 ada 4 buah. Lainnya bernilai 8. Ada sebuah angka 7, untuk pelajaran olahraga. “Andira ini persis Abang waktu kecil. Pintar, tapi tak pandai olahraga hahahaha...” Bonjes terbahak berkomentar. Saya merengut, tak percaya kalau dia bisa tahu nilai rapor saya waktu SD. Puji-pujian saya lontarkan untuk Andira. Juga wejangan penyemangat tentunya. Sewajarnyalah, sebagai Pak Tuo alias Pak De, atau Mamak yang biasa disapa Om oleh Andira. Rupanya Andira belum punya cita-cita. “Mau jadi astronot, tapi gak boleh sama papa,” ujarnya. “Kenapa gak boleh?” tanya saya. “Mengapa mesti jauh-jauh ke bulan, kalau alam terkembang jadi guru? Di sini saja banyak hal yang harus dibenahi,” sanggah Bonjes sambil membetulkan kacamata tebalnya. “Tapi langit dan planet-planet khan alam juga,” saya protes. “Tapi isinya batu-batu. Tak ada manusianya. Berbuatlah sesuatu untuk kemaslahatan orang banyak. Itu lebih mulia,” Bonjes terlihat serius sekali. Matanya melirik ke arah dapur restoran. Sudah lapar dia agaknya. Saya menatap Andira dan tersenyum. Andira menunduk, matanya kosong. Barangkali dia tak paham maksud ayahnya. Tak lama, hidangan makan kami datang. Kami makan dengan lahap, nyaris tanpa suara. Di luar, hujan sudah berhenti. Kami mengakhiri pertemuan dengan bercerita ringan seputar kampung halaman yang tak terdengar gaungnya akhir-akhir ini. “Kampung aman Bang. Sentosa. Tak ada bencana,” cerita Bonjes. “Iya, semoga tak ada masalah besar. Tapi tak ada cerita bagus juga tentang prestasi dan kerja pemerintahnya,” lanjut saya. “Malah bagus Bang. Kalau itu busuk, tak sampai ke ibukota. Kalau itu wangi, biarlah orang-orang kampung yang menikmatinya,” lanjut Bonjes. Lalu Bonjes pamit pulang. “Abang bisa antar ke Gondangdia? Kami naik kereta saja,” katanya. “Baiklah,” ujar saya. Kami pindah ke mobil dan di mobil Bonjes kembali bercerita tentang rapor anaknya Andira. “Bang, waktu Abang seumur Andira, apa yang dilakukan Ayah Abang kalau lihat rapor abang sebagus Andira?” tany Bonjes. “Ayah saya suka membeli nilai,” kenang saya. “Apa abang tak berniat membeli nilai Andira? Dia khan anak Abang juga. Bisalah Bang, tak akan rugi Abang memberi bonus untuk dia. Tak sampailah sejuta hahhahhaha....” besar sekali ketawa Bonjes saat itu. Mobil sirion kecil saya sampai terayun karena kerasnya. “Jadih,”kata sayasambil senyum. Setuju. Tak ada salahnya memberi uang untuk anak yang punya prestasi bagus, bukan? Toh tak setiap hari ini, ujar saya dalam hati. “Angka 9 berapa harganya Bang?” tanya Bonjes lagi. “Sepuluh ribu. Angka 8 lima ribu. Angka 7 tak dibeli,” jawab saya senyum melirik Andira. Lalu Bonjes membalik badannya, menghadap ke Andira yang duduk di kursi belakang. Mereka terlihat berhitung, perkalian dan penjumlahan. Saya juga berhitung, menerka-nerka jumlah uang tunai dalam dompet saya. “Bang, totalnya 70 ribu. Boleh dikali 2 ya Bang, soalnya Andira khan juara 2 di kelasnya....” rayuan Bonjes, seperti baisa, dimulai. Dan saya kembali mengangguk. Tak apalah, sesekali saja. “Jadih,” kata saya, setuju. “Tapi saya mampir ke ATM sebentar. Jam berapa kereta ke Depok?” tanya saya. “Jangan khawatir Bang, jam 9 tepat ada. Kalau gak terkejar, jam 9.45 juga ada lagi. Santai saja Bang,” jawab Bonjes. Saya membelokkan mobil ke arah ATM yang ada tak jauh dari jalan Sabang. Sebelum saya turun dari mobil, Bonjes menyerahkan sesuatu kepada saya, sambil berkata, “Bang sekalian beli angka rapor uni-uni si Andira ya Bang. Ini punya Yunita. Ini punya Marina. Hitunglah Bang. Berapa jumlahnya. Tak usah dari kelas satu, yang semester ini saja cukuplah,” Bonjes memamerkan giginya yang tak rata, tak pula putih itu. Saya terdiam. Jadih? Setiap kali ke Depok, saya selalu teringat teman mengaji di kampung dulu, si Bonjes. Dia tinggal di perumahan sederhana di bilangan Beji, Depok. Kebetulan, Jumat pekan lalu, salah satu klien saya mengajak untuk meeting di Depok, sekaligus melakukan peninjauan ke lokasi tempat kegiatan akan diadakan. Jam 11 lewat meeting dan peninjauan selesai. Saya telepon Bonjes dan mengajaknya untuk Jumatan bareng. Tapi Bonjes mengatakan bahwa dia tidak bisa meninggalkan rumah karena si Ida, istrinya, pergi ke Mangga Dua. “Ada di Yet dari Padang, datang bawa anak-anaknya liburan sekolah,” jelas Bonjes. “Siapa si Yet itu?” tanya saya. “Adik saya Bang. Masa Abang lupa? Dulu dia yang paling jago mengaji di surau kita.” Tak heran kalau saya lupa. Bonjes dan saya mengaji saat saya masih duduk di kelas 2 SD. Dan saya berhenti ketika lulus SD. Berarti sudah puluhan tahun. Sungguh saya lupa, yang mana si Yet adik perempuan si Bonjes yang jago mengaji itu. Samakah wajahnya dengan Bonjes? Bulat bundar, berambut keriting dan berkaca mata tebal itu? “Abang Jumatan di sini saja. Ada mesjid besar dekat rumah. Sekalian Abang mampir, tengok-tengok lah si Andira. Dia khan keponakan Abang juga. Sudah tamat SD dia Bang. Traktirlah dia semangkok bakso,” suara Bonjes di ujung telepon, menawarkan untuk mampir. Saya tak menampiknya. Kami Jumatan ber 4. Saya, Bonjes, Andira dan David Alamsyah. David masih berumur 5 tahun, anaknya si Yet. Dalam mesjid kami duduk terpisah, karena saya wudhu dulu, sementara mereka langsung masuk mesjid. Karena datang agak terlambat, akhirnya saya duduk tak jauh dari tangga. Masih untung bisa dapat duduk beralaskan karpet mesjid, berwarna abu-abu yang tercium wangi saat saya sujud. Selesai Jumatan, kami ketemu lagi di tangga pintu masuk mesjid. Si David terlihat cemberut. Saya tak tahu apa masalahnya. Dan saya juga tak mau terlalu peduli. Anak kecil kadang-kadang suka ngambek, apalagi emaknya tak ada. Mungkin dia lapar. “Jes, kita makan di sini saja ya. Saya gak bisa lama-lama, harus balik ke kantor,” saya mengajak Bonjes untuk makan di gerobak-gerobak tenda yang menawarkan banyak jenis makanan di halaman mesjid. “Gak apa, Bang. Banyak makanan enak di sini. Lagi pula tak ada makanan di rumah. Si Ida gak masak Bang. Abang yang traktir khan? Hahaha.... ” Bonjes tertawa sambil pamer gerahamnya. Traktir? Tak apalah, saya memang sudah niat makan-makan bersama sahabat masa kecil ini. Bukankah hampir setiap bertemu kami selalu makan-makan? Kami duduk di gerobak tenda ketoprak dan mulai memesan makanan. Kami makan ketoprak, pakai lontong. Tapi Bonjes pesan ketoprak pakai nasi. Karena tukang ketoprak tidak menjual nasi, maka nasi di beli dari tukang soto ayam yang ada di sebelah tukang ketoprak. “Gak nendang kalau makan lontong hahahaha....,” Bonjes terkekeh. Matanya menyipit. Kacamatanya melorot. Perutnya berayun-ayun. Lucu melihatnya. Pilihan kami tak salah, rupanya, Ketopraknya enak. Bumbu kacangnya sedap, gurih, pedas, manis, dan terasa asam jawanya. Lontongnya juga padat dan putih bersih. Tahu digoreng dengan sempurna, tak keras kulitnya, tapi tak lembek pula dalamnya. Kami makan dengan lahap, kecuali si David. Wajahnya masih cemberut. Kesal betul dia sepertinya, entahlah apa sebabnya. Rupanya Bonjes melihat ada temannya yang juga sedang makan di gerobak sate, tak jauh dari tempat kami duduk. Selesai makan, Bonjes bergegas menghampiri temannya itu. “Dia korwil Partai Demokrat, Bang. Banyak proyeknya. Siapa tahu ada yang bisa dibagi buat saya, nambah-nambah belanja si Ida,” ujar Bonjes sesaat sebelum berpindah. Tinggallah saya, Andira dan David di bangku panjang gerobak tenda tukang ketoprak. Saya dan Andira makan dengan lahap, tapi David tidak. Saya lalu bertanya, “Gak enak ya ketopraknya?”. David menggeleng, lalu menarik napas dan menghempaskannya. “Lalu kenapa seperti tidak berselera gitu makannya? Sudah kenyang perutnya?,” tanya saya lagi. David menggeleng lagi. Diseruputnya teh botol dingin yang ada di hadapannya. “Lalu kenapa cemberut terus dari tadi? Sakit?” saya masih coba menebak-nebak. “Kena marah sama Papa,” terdengar suara Andira. Lalu Andira tergelak ketika kakinya ditendang oleh David. Sepertinya ada rahasia yang disembunyikan mereka berdua. “Emang kenapa si David kena marah? “ saya bertanya kepada Andira. Siapa tahu anak baru lulus SD ini mau bercerita. Tapi dia senyum-senyum saja. Sesekali matanya melirik ke arah David yang duduk di sampingnya. “Siapa yang mau cerita? Mumpung Papanya Andira sedang pergi nih. Gak enak khan kalau makan tapi ada yang cemberut? Nanti Tuhan mengira kita tak bersyukur,” ujar saya menyerempet sisi rohaniah bocah-bocah kecil di hadapan saya. Ternyata cara ini jitu. David akhirnya bercerita, sesekali ditimpali oleh Andira. Waktu masih di dalam mesjid tadi, kotak amal beredar melewati tempat bersila mereka bertiga. Saat kotak amal sampai di hadapan Bonjes, dia cuek saja, malah pura-pura tidur. David mencoba membangunkan pamannya,”Pak Tuo, ndak maisi kotak ko?” “Beko,” jawab sang paman singkat, tanpa membuka mata. Tak berapa lama, sebuah kotak amal lewat lagi. “Nan iko pak tuo?” tanya David lagi. Bonjes cuek dan masih pura-pura tidur. David menggoyang-goyang lengan Bonjes yang dia sapa dengan sebutan Pak Tuo. Gak suka karena dibangunkan lagi, mata Bonjes melotot tajam, menghujam jantung keponakannya sendiri yang datang dari kampung dan berharap bisa bersenang-senang selama liburan ini. David sampai mengkeret ketika Bonjes melotot dan berkata, “Ang lai tau beko?” Lalu lewat lagi kotak ke 3. “Nan iko Pak Tuo?” David berusaha sopan. Tapi ternyata salah lagi. Bonjes tak sempat bicara apa-apa karena Khotib memulai doa bersama. Selesai sholat, menuju pintu keluar, dengan polosnya David menunjuk kotak amal yang terletak persis di pintu. “Pak Tuo, katanya beko. Kapan lagi? Kita sudah mau keluar mesjid.” Bonjes marah, dipilinnya telinga bocah 5 tahun itu sambil berkata,”Ndak urusan waang doh. Aden sadakah jo pitih den, ndak usah ang paso-paso.” David sedih. Hatinya sakit, Pak Tuonya ingkar janji. David juga marah, karena telinga panas dipelintir Pak Tuo yang dia hormati. Panjang lebar David bercerita kepada saya. Sesekali Andira menimpali, sehingga jelaslah sudah permasalahannya. Harapan bocah kecil bisa bersenang-senang selama liburan, ternodai. Itu yang bikin David cemberut. Saya lalu bertanya kepada David, “Masih panas kupingnya?” David menggeleng. “Hatinya masih panas?” David mengangguk. “Coba lihat Pak Tuo di sana,” saya lalu menunjuk ke arah Bonjes yang terlihat serius dan seru ngobrol dengan temannya yang orang partai itu. “Si Pak Tuo cuek-cuek saja tuh... Dia gak marah lagi, tapi kamu masih cemberut. Hati panas, makanan jadi gak enak. Padahal ketoprak seperti ini gak ada yang jual di kampung. Minum teh botol juga jadi pahit. Iya khan?” David mengangguk lagi. “Sekarang siapa yang rugi? Kamu khan?” David menatap saya. Sorot matanya mengharap saya membelanya. “Mau tahu caranya supaya ketopraknya bisa ditelan dan minum teh botol jadi enak?” lanjut saya. Lagi-lagi David mengangguk. “Maafkan Pak Tuo tu. Perkara dia berbohong, dia ingkar janji, biar Tuhan yang hukum dia. Perkara telinga yang dipelintir, gak apa-apa. Itu cara orang tua untuk mengajar anak-anaknya. Maafkanlah segera, supaya hilang sakit hatinya dan makanan jadi enak,” saya menasihati bocah kecil itu, sambil mengusap kepalanya, sekali saja. Tiba-tiba, David menyuap sesendok penuh ketoprak ke mulutnya, lalu mengunyah dengan lahap. Saya kedipkan mata sebelah kanan ke arahnya. Dia tersenyum. Begitu mudah dia memaafkan agaknya. Melihat dia sudah bisa senyum lagi, saya bermaksud memberinya hadiah. Pandang sekeliling, lalu panggil tukang es doger. Andira senang sekali, karena es doger adalah favoritnya. David juga lebih senang lagi, karena es doger tak ada yang jual di kampung. Saat kami sedang lahap menikmati es doger, Bonjes datang. Tapi tak mau pesan es doger. “Saya pesan mie ayam ya Bang,” pintanya. Sejenak saya berhenti menelan, lalu mengangguk. Sudah lapar lagi dia agaknya. Tapi saya tersentak kaget mendengar suara Bonjes saat memesan mie ayam. Begitu lantang menggelar. ”Bang, mie ayamnya 4 ya. Bungkus semua.” Hah...... 4 bungkus? Saya gak salah dengar khan? “Bawa pulang ya Bang. Mana tau si Ida datang, lapar. Khan di rumah tak ada makanan,” pinta Bonjes dengan senyumnya yang sangat khas. Alis matanya naik. “Tapi Kok 4?” tanya saya penasaran. “Khan ada si Yet, Bang. Saya tahu betul kelakuannya. Adiak ambo tu, bakabau dalam perutnya, mana cukup dia 1 bungkus.” Alis mata Bonjes naik lagi. “Dan sisanya, 1 lagi buat saya... hahhaha...,” Bonjes meneruskan. Gerahamnya terlihat saat tertawa. Belum sempat saya menjawab, belum habis penasaran saya, tiba-tiba Andira bertanya,” Si kakak sama si Uni ndak dibeliin ayah?” “Boleh Bang?” tanya Bonjes kepada saya. Seperti tidak punya pilihan, saya mengangguk. Entah kenapa. Sudah tengah malam, tapi aku tak bisa tidur. Cerita Eyang tadi sore tentang orangtuaku, masih terngiang jelas di telinga. Sungguh, aku tak menduga cerita ini menimpa diriku. Padahal aku masih sangat muda, 10 tahun, tapi sudah ditinggal pergi ayah dan ibu selamanya. Eyang bercerita bahwa ayahku adalah pemuda miskin dari rantau, tapi berkemauan keras dan pandai berdagang. Sukses sebagai saudagar serta ditambah wajah tampan khas pria-pria tanah seberang, membuat ibuku mencintainya dan mereka menikah. 5 tahun lalu, ayah membawa ibu menuju tanah kelahirannya dengan kapal milik keluarga. Entah apa yang terjadi, kapal yang mereka tumpangi kandas. Ibuku hilang tak tahu rimbanya, sementara Ayah ditemukan menjadi batu. Ya, ayahku bernama Malin Kundang. Pandangan saya nanar. Hati saya bimbang. Jantung bedegup tak berirama. Anak satu-satunya, masih tersedu-sedu menangis di pangkuan saya. Toro, baru saja mengaku bersalah, memiliki istri muda.Tanpa izin saya , ibunya, bahkan tanpa sepengetahuan Soraya, istrinya. Airmata Toro membahasi pakaian saya, tapi tak mengerakkan tangan saya untuk mengusap rambutnya yang lebat, seperti rambut ayahnya. “Mana cucuku?” tanya saya, datar. “Sama ibunya,” jawab Toro masih menyembunyikan mukanya dalam pangkuan saya. Kenangan lama melintas di pikiran saya. Toro anak saya satu-satunya, nyaris tak mengenal ayahnya. Saat ia berusia 2 tahun, saya mengusir ayahnya karena ketahuan punya istri muda. Apakah saat ini saya punya nyali mengusir anak sendiri? Toro masih terisak. Saya masih belum bergerak. Cindy namaku. Waria. Iya, wanita pria. Saat pria-pria yang membutuhkan jasa syahwat dariku, aku adalah wanita. Saat wanita-wanita meminta jasa agar mereka terlihat cantik, aku tetap wanita. Hingga suatu hari, aku sungguh jatuh hati. Saat berkenalan dengan seorang polisi muda, berwajah lancip, beralis penuh, bergigi rapih dan putih. Rini namanya, seorang polisi wanita. Tak hanya cantik, Rini juga baik. Perkenalan kami bersambung melalui SMS yang bisa belasan kali sehari. Entah siapa yang memulai, sesekali kami berkirim kata-kata rindu. Seketika aku menyadari, namaku Candra, pria, 22 tahun. Kencan pertama dengan Rini, aku tinggalkan bedak dan gincu. Kubiarkan kumis meremang, tak dicukur. Tapi Rini berkata,”Aku suka kamu sebagai wanita.” Tak ada masalah bagiku. Anakku, Beno, usianya 5 tahun. Berkali-kali dia menanyakan perihal ibunya. Sudah acap kali pula diberitahu tentang kepergian ibunya yang tak akan pernah kembali. Bukan aku yang bercerita pada Surya, tapi neneknya, ibu mertuaku. Aku adalah laki-laki pendiam, yang menjadi semakin diam setelah kepergian Mirna, istriku, yang meninggal 2 tahun yang lalu. Pagi ini aku berangkat kerja seperti biasa. Setelah sarapan, aku cium kening anakku, pamitan sama mertua, lalu menuju stasiun. Seperti biasa pula, aku tidur dalam perjalanan , dalam kereta api. Saat terbangun, tubuhku merasa kaku susah digerakkan. Matapun sudah dibuka. Sekelilingku sepi. Apa ini? Samar terdengar suara ibu mertuaku,”Beno, doain ayahmu. Semoga bisa bertemu ibumu di surga” Lalu sepi lagi.  Teman baru saya bernama Baruno. Hm.... nama palsu sih, karena nama sebenarnya saya sembunyikan. Kenapa mesti nama samaran? Soalnya dia kerja di sebuah sebuah kantor yang dikelilingi kawat berduri, yang tidak semua orang bisa masuk ke sana. Jangankan masuk, melongok pun susah karena pagarnya tinggi banget. Konon, karyawan yang berkantor di sana, harus melewati 3 kali pemeriksaan sebelum sampai ke kursi atau meja kerja masing-masing. Parahnya lagi, karyawan di sana tidak boleh membawa handphone ke kubikel mereka. Handphone ditinggal di loker, begitu juga tas dan jaket. “Ribet amat,“ tanya saya suatu hari “Gak juga. Lama-lama terbiasa kok,” jawab Baruno “Kalau ada telepon penting gimana?” “Khan ada telepon kantor. Setiap meja ada telepon kok.” “Tapi khan lebih gampang pakai HP,” saya tetap gak paham. “Jaman dulu bisa kok. Seharusnya jaman sekarang tidak jadi masalah,” Baruno menjawab tetap dengan senyum. Walaupun tak pemegang handphone selama bekerja, tapi Baruno tetap punya gadget canggih. Blackberry terbaru, juga iPad, iPod dan entah apalagi. “Trus, gadget lengkap kaya gini, jarang dipakai dong?” tanya saya setengah iri. “Heheheh.... di kantor semua teman punya, masa saya gak punya?” Baruno menjelaskan. Kalau ada yang menebak Baruno bekerja di Kedutaan Amerika, maka itulah kejadian yang sebenarnya. Baruno sudah 7 tahun lebih bekerja di sana. Malam ini, saya kembali bertemu Baruno dan kembali mendapatkan cerita-cerita menarik tentang kantornya serta juga orang-orangnya. Malam ini Baruno bercerita bagaimana orang Amerika memandang orang Indonesia. “Mereka tidak pernah menganggap kita sebagai bangsa yang lemah dan terbelakang. 7 tahun saya bergaul dengan bule-bule Amerika, setiap hari ngobrol dengan mereka, saya gak pernah merasa mereka memandang rendah kepada saya. Penilaian mereka adalah Indonesia ini sebagai negara yang besar.” “Satu hal yang saya tidak pernah dengar dari mereka adalah mereka tidak pernah menjelek-jelekkan negara mereka,” Baruno bercerita panjang lebar. “Ya ialah, mana ada orang menjelek-jelekkan bangsanya sendiri,” sanggah saya. “Mas pernah dengar cerita tentang orang yang berasal dari 3 negara? Nah, yang biasanya jadi bahan tertawaan adalah orang yang ke 3. Sering kali orang kita yang bercerita dan yang jadi orang ke 3 ini, yang paling apes, paling sial adalah orang kita sendiri, orang Indonesia,” Baruno bercerita berapi-api.  Saya jadi ingat cerita tentang berlomba memanah apel di kepala, dimana peserta pertama setelah memanah berkata “I am Rambo”. Lalu peserta kedua, setelah memanah berkata “I am Robin Hood “ dan peserta ketiga dari Indonesia, setelah memanah berkata,” I am sorry,” karena tidak kena sasaran. Bagi saya cerita itu lucu, tapi Baruno meneruskan ceritanya. “Saya gak pernah mendengar orang Amerika membuat lelucon seperti itu dengan menempatkan bangsa mereka sendiri sebagai pihak yang kalah, lemah, salah dan menjadi bulan-bulanan.” Saya mengangguk-angguk. “Penilaian positif terhadap bangsa mereka sendiri, membuat mereka juga punya respek postif terhadap negerinya. Respek positif ini akan membentuk aura yang baik pada diri mereka, lalu menularkan ke orang lain.” Saya mengangguk-angguk lagi. Anggukan saya lebih dalam karena paham dan setuju. Baruno pun meneruskan kalimatnya,”Inilah yang harus kita lakukan. Kita harus yakin bahwa kita bangsa yang besar dan hebat. Jika kita bangga, maka orang yang melihatpun akan memberikan respek yang baik, seperti yang kita harapkan.” Saat kalimat ini diucapkan, Baruno menepuk pundak saya cukup keras. Saya sedikit terdorong ke depan. Tapi segera saya perbaiki sikap tubuh saya agar segera tegak kembali. Dada sedikit membusung, dagu sedikit naik dan mata sedikit menyipit serta pandangan tajam lurus ke depan. Dalam hati saya menyuarakan bahwa ,”Saya bangga menjadi orang Indonesia.” Terima kasih Baruno. Sungguh, terima kasih ini asli, walau nama Baruno adalah palsu.  Dengan tinggi badan 181 cm dan berat badan sekitar 73 -74 kilogram, sesungguhnya saya tak perlu harus diet. Apalagi dengan bentuk tulang yang kecil (dan muka yang tirus... uhuy), saya cenderung terlihat kurus. Saat ini, olahraga sudah semakin jarang. Membership di salah satu tempat fitness sudah saya hentikan. Begitu juga bermain tenis dengan teman-teman dari milis lapanpuluhan, juga sudah tak lagi saya lakukan. Lalu bagaimana hidup sehat dan tak sakit-sakitan kalau tak olah raga? Saya percaya, jika olahraga tidak sempat maka makanlah yang cukup dan sehat. Hindari begadang dan tentu saja tidak merokok. Itu kunci hidup sehat saya. Tapi bukan berarti saya selalu merasa sehat lantas bisa dengan gampang melahap segala makanan lho. Saya juga punya beberapa jenis makanan yang saya ‘pantang’kan. Bukan pantang 100 persen sih, cuma sesekali masih boleh lah. Yang pantang 100 persen adalah yang haram-haram saja, pastinya J Memilih makanan yang dipantangkan ini, selain karena dengar-dengar berbahaya, juga karena saya pernah mengalaminya sendiri sehingga mulai kapok dan mikir kalau harus memakannya lagi. Contohnya adalah krecek, yang suka dijadiin sambal goreng dan teman makan gudeg.  Krecek itu enak banget khan? Apalagi kalau ada cabe rawitnya yang hijau segar, plus ada santan kelapa yang putih kental itu. Aduhai itu, nikmat sekali. Krecek itu dibuat dari bahan dasar kulit sapi atau kulit kerbau. Suatu hari, saya dan teman-teman makan gudeg di sebuah kantin di bilangan Kuningan. Dari beberapa teman, hanya saya dan Irma yang pesan nasi gudeg. Tentu saja, di piring saya dan Irma ada sambal goreng krecek itu. Rupanya Irma gak doyan krecek. Maka berpindahlah krecek Irma ke piring saya, sehingga porsi sambal krecek saya jadi 2 kali lipat. Apa yang terjadi setelah makan? Kira-kira 1 jam kemudian, tengkuk saya kaku sekali, tegang dan sakit. Awalnya saya tidak tahu kalau ini akibat menu makan siang saya. Saya coba menghilangkan pegal-pegal di tengkuk dengan mengurutnya, pijat-pijat sendiri, lalu pakai balsem, minum air hangat bergelas-gelas, tapi tetap saja leher ini tak enak kalau ditegakkan. Karena tak kunjung reda dan kegiatan mulai terganggu, saya menelepon teman saya bernama Dokter Deby. Pertanyaan Deby yang pertama adalah,”Tadi makan apa?”. Karena gak ada yang aneh, setidaknya menurut saya, saya pun menjawab,” Makan siang biasa kok.” Dokter Deby mulai menasihati saya... bla bla bla... Baik sekali dia. Sejak itu saya mulai mengurangi makan krecek. Kalaupun kangen makan gudeg, maka tak mungkin lagi 2 porsi sambal goreng krecek. Tapi cukup 2 potong saja, sekedar melepas keinginan saja. Lalu, makanan lain yang saya kurangi adalah emping. Kerupuk emping biasanya disajikan sebagai tambahan kalau kita makan soto mie atau mie goreng/nasi goreng Aceh. Karena beberapa kali menolak atau mengembalikan kerupuk emping saat pesan makanan tersebut, saya pernah ditanya abang penjualnya. “Gak doyan ya Mas? Pahit ya?.” Saya jawab,”Bukan karena rasanya Bang. Tapi takut asam urat.” Saya pernah melakukan General Check Up di salah satu klinik di daerah Mampang. Setelah hasil saya dapat, saya lalu berdiskusi dengan dokter yang ada di klinik itu, membicarkan hasil pemeriksaan terhadap tubuh saya. Semuanya bagus, kata si dokter. Alhamdulillah, kata saya. Tapi, lanjut dokternya...... Nah ini dia! Saya mulai deg-degan. Dokter cantik itu mulai bertanya tentang silsilah keluarga, termasuk riwayat kesehatan ayah, ibu, bahkan nenek saya. Berbagai pertanyaan diajukan dan saya jawab sejujunya. Pertanyaan si dokter itu berakhir dengan,”Kolesterol masih normal, cuma memang cenderung tinggi. Biasa seperti ini kalau orang Minang.” Dokter itu tersenyum manis, saya tersenyum kecut. Hasil bincang-bincang dengan dokter inilah yang membuat saya mulai berhitung-hitung soal makanan dan juga minuman. Bukan hitung-hitungan harga ya, tapi hitung-hitungan sebagaimana yang dilakukan oleh orang diet. Kalori yang masuk harus berimbang dengan kalori yang keluar. Vitamin yang tekandung dalam makanan, harus jadi perhatian komposisinya. Protein tak perlu berlebihan karena akan jadi bisul dan banyak lagi. Seribet itukah yang saya jalani? Tentu saja tidak. Saya hanya menjalankan yang simpel saja seperti : makanlah bila mulai terasa lapar dan berhentilah sebelum perut merasa kenyang. - Cobalah penuhi 4 sehat 5 sempurna setiap hari. Jadi saat makan besar harus ada protein hewani seperti ikan, daging atau telur, juga harus ada protein nabati dari sayur-sayuran, terutama sayur hijau. Buah-buahan, tentu saja ada setiap hari. Ditambah susu, jika perlu.
- Cemilan, boleh saja sesekali dan sedikit. Lapar jam 10 pagi atau sore, hajar cemilan sehat. Gorengan boleh gak? Jujur, saya sikat aja. Tapi bukan pengganti makan malam yam cukup2 potong saja dan selama seminggu gak boleh gorengan lagi.
- Malam-malam lapar... ya harus makan malam dong. Banyak teman yang mematuhi anjuran untuk tidak makan setelah jam 7 malam. Saya sih, gak gitu-gitu amat. Yang penting makan malam secukupnya. Jika masih lapar, makanlah buah. Kadang-kadang, lapar bukan karena perut minta diisi, tapi lapar terjadi karena glukosa dalam darah berkurang.
Oh ya.... saya tidak menganjurkan agar cara saya digunakan oleh orang lain. Tentu saja tidak, karena saya bukan pakar dan saya tidak pernah melakukan riset terhadap pola makan dan cara makan saya. Cuma, saya melihat dari kebiasaan makan ayah dan ibu saya, yang alhamdulillah sehat selalu sampai umur mereka lanjut. Ayah selalu bugar, hingga wafat umur 79 tahun. Satu-satunya yang membuat ayah saya terlihat susah adalah sebagai akibat dari banyak merokok. Dan ibu saya, masih bugar dan cantik di usia ke 81 di tahun 2011 ini. Kuncinya menurut beliau adalah jangan rakus. Sederhana khan? Saya ingin agar Presiden SBY meniru apa yang dilakukan ayah dan ibu saya. Jadi gak usah repot-repot harus diet, mengurangi berat badan 5 kilogram dan seluruh jagatpun tahu. Jangan rakus, dan penuhi 4 sehat 5 sempurna. Teringat lagu yang saya pelajari waktu masih TK (Taman Kanak-kanak) : Makanan pokok beras, sagu, jagung Sayur-sayuran bayam dan kangkung Buah-buahan jeruk, limau, pisang Ditambah daging telur dan ikan 4 sehat dan 5 sempurna.
*) Gambarnya cantik. Dari google ya? Ho'oh. Siapa bilang jadi orang jangkung itu enak? Gak juga.... Saya akan cerita beberapa kejadian, yang membuat saya merasa bahwa jadi jangkung itu tak selamanya menyenangkan. Sebelum cerita, saya akan kasih tahu dulu bahwa saya memiliki tinggi badan 181 cm. Tidak banyak kawan yang lebih tinggi dari saya, pun saudara. Bisa dihitung dengan jari tangan saja. Oke, bersiaplah mengikuti kisah malang saya sebagai orang jangkung. - Ketika kelas 1 Sekolah Dasar (SD) saya bersekolah di SD Fransiskus atau RK 2 di Padang. Saya sudah masuk dalam barisan anak-anak jangkung di kelas, sehingga saya duduk paling belakang, bersama dengan anak yang tinggal kelas. Saya rasa, lingkungan yang tidak kondusif inilah yang menyebabkan saya tidak bisa menjadi memiliki nilai raport yang bagus saat SD kelas 1. Saat itu saya termasuk yang lemah dalam pelajaran menulis. Saya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menulis kalimat-kalimat panjang. Dan tulisan saya pun buruk. Bahkan sampai sekarang, tulisan tangan saya sangat buruk, lebih buruk daripada tulisan dokter karena apoteker di apotik saja tak bisa membacanya. Semua karena saya duduk di belakang saat menerima pelajaran dasar itu.
- Mulai naik kelas 2 (dua) hingga tamat SD, saya sekolah di SD Yos Sudarso yang lebih dekat dari rumah. Saya kembali duduk di belakang. Bukan pilihan saya, sebenarnya. Tapi gurulah yang menetapkan posisi duduk saya. Tidak mungkin saya duduk di depan, karena pastinya akan menghalangi pandangan teman-teman yang duduk di belakang saya. Sekali-sekalinya duduk agak di depan, yaitu baris ke 3, waktu di kelas 4. Tapi itu juga di deretan paling pinggir, tidak di sentral. Jangan salahkan saya kalau suka berisik di kelas, karena sesungguhnya saya ingin jadi pusat perhatian (eh.. masak sih?)
- Saya pernah membaca sebuah artikel yang menerangkan bahwa murid yang berbadan lebih tinggi dalam sebuah kelas, cenderung lebih dipercaya oleh guru. Ada benarnya sih, karena saya mengalaminya. Kelas 3 SD, saya sering sekali mendapat kepercayaan untuk menghapus papan tulis, memasang peta di depan kelas, mengambil buku-buku di lemari guru dan lain-lain. Semua tentu saja karena saya berbadan tinggi. Saat itu memang bikin bangga. Semua saya jalani dengan senang hati. I am chosen, batin saya. Tapi kalau dipikir sekarang, sama saja saya jadi jongos. Teman-teman duduk manis di kelas, saya ngerjain ini itu. Huh, kesel!
- Masih berkisar soal si jangkung yang lebih dipercaya oleh guru, maka sejak kelas 4 SD sampai tamat SMP saya selalu menjabat sebagai ketua atau wakil ketua kelas. Puncaknya adalah saat kelas 3 SMP, di SMP Yos Sudarso Padang, saya menjadi ketua OSIS. Keren khan? Dan sungguh, jabatan ini saya suka. Saya menikmati menjadi jangkung saat ini. Eh, kok gak fokus sama judul ya? Maafkan, ada baiknya nomor 4 ini diabaikan saja..... hehehhe
- Di awal usia belasan tahun, kira-kira kelas 5 SD hingga SMP kelas 2, saya sering diajak teman-teman berenang, baik di kolam renang yang tak jauh dari sekolah, ataupun di laut dan sungai yang tak jauh dari rumah kami di Padang. Tapi saya tak pernah mau kalau diajak berenang. Tidak berenang saja sudah paling tinggi, apalagi kalau berenang, pikir saya saat ini. Al hasil, ajakan mereka saya tolak dan saya tak bisa berenang hingga sekarang. Huuuuu.... sungguh malu.... *tutup muka pake handuk*
- Tamat SMP, saya dterima di SMA Negeri 2 Padang, salah satu SMA Negeri favorit di jaman itu. Saat melakukan pendaftaran ulang untuk siswa yang diterima, sekaligus diserahkan kain atau bahan untuk seragam, berupa kain putih untuk kemeja dan kain abu-abu untuk celana, dilengkapi lambang OSIS, topi dan dasi. Bahan celana sudah dalam keadaan terpotong, biasanya dengan panjang 110 cm, sesuai ukuran standart untuk celana panjang pria dewasa. Tapi, karena saya jangkung, saya butuh bahan lebih panjang yaitu 125 cm. Setelah antri dari pagi, pas giliran saya sampai loket, saya meminta agar saya diberikan bahan yang lebih panjang. Awalnya, petugas tak percaya kalau saya tinggi. Katanya cukup pakai yang 110 cm saja. Saya ngotot, minta diberikan yang lebih panjang. Akhirnya petugas mengalah, tetapi saya harus membayar lebih. Dan sialnya, uang saya tak ada. Saya harus pulang, ambil uang dan kembali ke sekolah. Lalu antri lagi di siang yang panas itu. Semua terjadi karena saya jangkung.
- Saat kuliah di Jurusan Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro Semarang, salah satu kegiatan yang saya ikuti adalah Paduan Suara. Karena memang suka menyanyi, saya terpilih memperkuat Paduan Suara Fakultas untuk berlomba di tingkat Universitas. Awal latihan adalah untuk menentukan kelompok suara dan saya masuk ke kelompok tenor, atau suara tinggi pria. Tapi, beberapa hari sebelum lomba, mulailah kami berlatih dalam formasi sesungguhnya, termasuk berlatih koreografi. Kelompok suara tenor, harus berdiri di baris ke dua bagian tengah. Mulailah kekacauan terjadi. Dimana saya harus berdiri? Jika diantara kelompok tenor, maka barisan akan kelihatan tidak rapih karena umumnya, anak-anak alto berbadan kecil. Lalu pelatih menyuruh saya untuk pindah ke deretan paling pinggir, bergabung dengan kelompok suara bass. Agar tak mengacaukan suara teman di sebelah saya, dan agar suara saya juga tidak terpengaruh, maka saya harus merubah suara saya dari tenor menjadi bass. Ini sungguh sebuah perjuangan berat, saudara-saudara. Saya menjadi bersuara bass bukan karena vokal yang rendah, tetapi karena tubuh saya yang tinggi.
Selanjutnya saya akan bercerita tentang penderitaan saya saat naik angkutan umum di Jakarta. Bemo, walaupun jarang, tetapi masih ada di daerah Benhil. Saya akan pilih duduk di depan, daripada di belakang. Kalau duduk di belakang dengan posisi berhadap-hadapan dengan penumpang lain, maka dengkul saya akan menyeruduk masuk di sela paha penumpang depan. Risih khan? Iya kalau penumpang depan pakai celana panjang. Tapi kalau pakai rok.... nah lho... Cari aman, saya pilih duduk di depan. Kalau naik bis kota, saya pilih berdiri. Kalau saya duduk, maka dengkul saya akan mentok ke sandaran kursi yang di depan. Jika jarak tempuh tidak terlalu lama, maka akan baik-baik saja. Tapi kalau jarak tempuh cukup panjang atau macet, ini sungguh sebuah penyiksaan. Maka, saya akan sangat bersyukur jika bisa duduk di bangku terdepan, ataupun paling belakang. Jika naik metomini, maka saya hanya bisa berdiri di dekat pintu dengan resiko kegencet, kesenggol, terdorong setiap ada yang turun ataupun naik. Tidak mungkin kalau saya harus berdiri di dalam metromini. Kepala saya harus ditarok dimana???? Sesungguhnya, saya diajarkan oleh ayah dan ibu saya untuk tidak banyak mengeluh terhadap segala pemberian Tuhan. Kalau 8 cerita di atas dianggap cukup banyak, saya mohon maaf kepadaMU ya Allah, walau sesungguhnya masih banyak cerita lain karena tubuh jangkung ini. Masih melekat diingatan tentang kesulitan saat menonton bioskop, kursi di pesawat juga harus minta isle position, susah punya celana jeans ‘bermerk’, pilih-pilih kalau punya MC berpasangan dan lain sebagainya. Hufff... mengeluh lagi khan? Ya udah deh... stop sampai di sini saja. *) Mbah google, makasih gambarnya ya :)
Jarum jam menunjukkan pukul 9.30 malam. Saatnya bersantai di rumah. Nonton TV adalah salah satu keasyikan yang biasa saya lakukan. Sedang asyik memilih-milih acara TV yang seru, tiba-tiba ekor mata saya menangkap sebuah gerakan melata di lantai, tak jauh dari meja makan. Ular! Saya langsung teringat kejadian beberapa minggu sebelumnya, saat rumah saya kemasukan ular dan saya membunuhnya dengan keji, tanpa ampun. Walau akhirnya Pak Kumis, satpam di lingkungan saya tinggal, yang menuntaskan hidup ular itu, tetapi Pak Kumis juga yang berpetuah tentang kekerabatan ular. Pak Kumis bilang, ”Biasanya sodara-sodaranya akan datang, nyariin yang mati.” Dan saya yakin, ular yang masuk ke rumah saya malam itu adalah saudara dari ular yang saya bunuh beberapa hari sebelumnya. Lihat saja warna kulitnya. Sama, hitam legam mengkilat. Ukurannya juga sama, kira-kira panjang 1 meter dan besarnya seukuran jempol tangan kanan. Jempol kiri saya agak kecil sedikit. Hanya orang kidal yang memiliki jari-jari tangan kiri lebih besar daripada jari-jari di tangan kanan. Iya khan? Kalau ular yang masuk terdahulu adalah jenis udah sendok atau kobra, maka kali ini harusnya sama. Saya perhatikan caranya melata. Liukannya sama dengan ular terdahulu. (yaeiala.....semua ular juga meliuk, gak ada yang lenggang kangkung, bukan?) Kalau begitu, alat yang akan saya gunakan juga harus bisa menebas kepalanya dengan sekali pukul, jika nanti kepalanya berdiri. Berdasarkan pengalaman terdahulu, saya harus mengambil semacam tongkat panjang. Bisa tongkat baseball, bisa tongkat buat bantu jalan kakek-kakek atau tongkat pramuka. Tapi saya gak punya tongkat. Pilihan saya jatuh pada payung. Sebuah payung golf yang besar segera ada dalam genggaman saya. Perlahan, mengendap-endap, saya mendekati ular itu. Saat itu sang ular terlihat tidur, eh berbaring....eh, apa ya namanya.. pokoknya si ular sedang bersender dekat lemari buku tempat saya menyimpan buku. (hush, jangan bercanda ah. Ini tegang nih... genting suasananya. Serius dong ah!) Ular itu nampak diam, tak bergerak. Mungkin dia sedang menangis, meratapi saudaranya yang terbunuh di lokasi ini. Tapi saya tak mau terjebak dalam permainan licik si ular, yang seolah mengharap rasa iba dan belas kasihan. No way! Saya tusukkan ujung lancip payung ke badannya, berharap kepalanya berdiri dan bisa saya tebas.... hap! Naas, harapan saya tak bisa terlaksana. Ular itu bergerak, tapi kepalanya tetap melata, tidak tegak seperti yang saya harapkan. Sungguh saya sangat takut kalau ular itu tiba-tiba bergerak ke arah saya. Secepat kilat, bahkan mungkin lebih cepat dari kilat, saya sudah naik ke atas kursi meja makan. Ular itu meliuk-liuk ke arah rumah bagian belakang dan..... alamak.... siapa tadi yang membuka pintu kamar belakang? Saya mengutuk dan menggerutu sendiri, karena itu pasti perbuatan saya. Bukankah tak ada orang lain di rumah ini? Ingin rasanya saya berlari mendahului ular itu, untuk menutup pintu kamar belakang agar ular tak masuk ke sana. Mengapa saya tidak ingin ular itu masuk ke kamar belakang? Karena di sana lebih sempit. Pertarungan satu lawan satu, sebaiknya di ruangan yang terbuka dan lapang. Kalau ruangan sempit, lebih baik joget dangdut saja.. (eh, serius dong... iya deh). Kalau ular masuk ke kamar sambil megal megol meliukkan badannya, saya menyusul beberapa langkah di belakangnya. Saya berjalan sambil masuk berjingkat-jingkat. Kami seperti sepasang penganten baru yang mau masuk kamar, tetapi tak ingin ketahuan sama mertua. Di dalam kamar, saya ketok kepala ular itu dengan gagang payung. Meleset, tidak pas. Pukulan saya mengenai lantai, tapi berhasil membuat kepala ular itu berdiri. Ular itu memutar kepalanya dan sekarang berhadap-hadapan dengan saya. Ular itu menatap saya. Saya membalas menatapnya, tajam dan bengis. Belum sempat ular itu menggoda saya dengan mengedipkan matanya, saya sudah siap dengan ancang-ancang menebas kepalanya. Sekuat tenaga saya ayunkan payung itu. Whuuuzzz..... kena! Ular itu terpelanting, membentur tembok dan jatuh di dekat lemari. Sungguh, napas saya besar-besar saat itu. Jantung saya juga berdetak kencang. Mata saya juga melotot, tak berkedip menatap ular yang berhasil saya pukul, dengan gaya seperti Tiger Wood melakukan pukulan untuk hole in one. Apakah ular itu mati? Ebuset, tidak saudara-saudara. Dia bergerak ke arah dinding, lalu melata menuju lemari tempat saya menyimpan baju-baju khusus untuk berpergian dan baju-baju untuk kegiatan MC.Saya tidak mau ular itu memanjat lemari, karena kalau dia sampai di atas, susah bagi saya untuk melihat gerakannya. Kalau tiba-tiba dia melompat dari atas lemari ke kepala saya, gimana? Hiiiii...... Saya dorong ular itu agar jatuh dan tetap ada di lantai. Tapi apa daya, ular kali ini sungguh banyak akal. Dia menyusuri sudut tegak lurus antara lantai dan tembok, lalu menyusup ke celah sempit di samping lemari. Ibarat petinju, dia masuk ke sudut ring yang membuat dia bisa jadi sasaran empuk pukulan-pukulan. Sungguh tolol dia sebenarnya. Kalau dia berada di lokasi itu, saya bisa dengan bebas menghujani dia dengan pukulan, baik sodok-sodokan seperti main billyard, atau memukulnya dari atas seperti orang menggebuk kasur. Bisa menang mutlak nih, pikir saya. Akan tetapi, saudara-saudara, kemenangan belumlah berarti menang kalau lawan masih bisa berjuang. Saya pun gak bisa yakin menang saat itu, karena payung yang saya gunakan untuk melawan ular sendok itu, tidak bisa memasuki celah dimana si ular berada. Baik gagang maupun ujung lancip payung terlalu besar dibandingkan celah antara lemari dan dinding. Maka paniklah saya! Beruntung (Oh Lord, I love you deh) ada obat nyamuk semprot di dekat situ. Tanpa pikir panjang, tanpa malu harus dikatain bodoh, saya semprot celah itu dengan sebuah semprotan yang paaaaaaannnjang, dan laaaaammmmaaaa.... srrrrrrreeeeeeetttttttt....... Sambil menyemprot, mata saya tetap mengawasi kalau-kalau ular itu keluar dari celah sempit. Dan, dugaan saya benar. Ular keluar sempoyongan, setengah mabuk. Bisa jadi dia mabuk karena gak kuat dengan bau obat nyamuk, bisa jadi dia sempoyongan karena tertawa geli ,”huahahhaha.... manusia aneh, gua dibunuh pakai racun serangga.” Mungkin begitu dalam hatinya. Tapi, saya lebih sigap. Sempoyangan dan mabuk membuat dia lengah. Saya ayunkan lagi gagang payung ke kepala ular, ke tubuhnya, kemana saja. Gerakan saya persis seperti orang menumbuk padi dalam lesung. Setelah yakin ular itu tak bergerak lagi, baru saya rasakan saya sangat letih. Saya selonjoran bersandar di dinding, berseberangan dengan dinding tempat ular itu mati. Saya tatap ular yang telah menjadi bangkai itu. Eh, beneran udah jadi bangkai? Atau jangan-jangan tipu-tipu ular berbisa ang lidahnya bercabang dua? Saya mohon ampun kepada Tuhan, karena sudah menjagal makhluknya yang siapa tau hanya nyasar, tapi saya membunuhnya tak berampun. Setelah yakin ular itu mati, saya memungutnya dan berencana membuangnya. Etapi buang kemana? Tiba-tiba saya bergidik dan merinding lagi. Kalau-kalau si ular mati yang ini saudaranya lebih banyak dan lebih besar bagaimana? Jadi lebih baik, tidak dikubur di halaman rumah. Kuburnya harus jauh. Dan ular mati itu sukses membuat saya bekerja keras malam itu, walaupun dia sudah tak bernyawa. Saya terpaksa mengepel seluruh lantai rumah, saya menggosok-gosok celah antara dinding dan lemari, saya menutup celah-celah di bawah pintu, saya ganjal celah dengan keset dari sabut yang bertuliskan welcome. Semua saya lakukan, tentu saja, agar saudara-saudara ular yang mati, tidak lagi mencium jejaknya dan datang lagi. Tuhan Maha Baik. Sejak saat itu, tak ada lagi ular yang nyasar masuk ke rumah saya. Setidak-tidaknya ular tidak masuk pada saat saya sedang di rumah. Dan semoga, suara-suara yang ada di plafon rumah, yang kadang-kadang terdengar seperti suara binatang berlari, bukanlah suara tikus atau kucing yang ketakutan di kejar ular. Semoga tidak. *) Gambar edited dari google  Rumah saya pernah dimasuki ular 2 kali. Yang pertama, masuknya malam hari. Entah dari celah mana, tiba-tiba saja binatang hitam mengkilat itu meliuk-liuk melintasi ruang makan menuju ke dapur. Saat itu saya sedang menonton TV. Ular boleh meliuk, seksi. Tapi saya panik. Kaki saya angkat ke atas kursi, padahal ular itu berjarak beberapa meter dari saya. Karena lantai cukup licin, si ular itu tidak bisa melata dengan cepat. Saya berkesempatan untuk berpikir, dengan alat apa saya bisa mengusir, atau memusnahkan ular hitam, sebesar ibu jari, sepanjang 1 meter itu. Biasanya, yang suka tiba-tiba melintas di rumah saya adalah kecoa. Tapi itu juga jarang-jarang terjadi lho, khan rumah saya bersih hehhehhehe.... Kalau ada kecoa, bisa pakai sendal, bisa juga dengan koran, yang dilipat-lipat sehingga menjadi seperti pentungan satpam, lalu bhok..... Sekali gebok, kecoa akan tamat riwayatnya. Tapi, malam itu ular, saudara-saudara. Gimana ngusirnya? Saya tak berpikir untuk mengusirnya, tapi membunuhnya. Pakai koran juga? Wah, saya gak yakin sekali gebok, si ular bisa mati. Saya mau, sekali pukul setidak-tidaknya ia tak berkutik. Hajar pakai sendal? Apalagi. Kalah panjang..... Saat saya menemukan ide untuk menggunakan papan cucian yang ada di kamar mandi, saya merasa saya sangat cerdas. Pelan tapi cepat (eh.... saya panik, gak sempat mikir), dari atas kursi saya membidik kepala ular itu. Lalu papan plastik itu saya lempar ke arah ular. Alamak, ketakutan yang amat sangat membuat saya gagal mengenai kepala ular hitam itu. Yang terkena lemparan adalah badan ular, agak ke belakang ke arah ekor. Selanjutnya, kelakuan ular itu membuat saya tambah takut. Kepalanya bediri, dan mengembang. Yap, ular sendok rupanya. Berbisa mematikan. Ular itu masih hidup. Entah siapa yang meniup seruling, kepalanya masih bisa tegak dan bergerak kiri kanan. Tapi ular itu sudah tak bisa merayap lagi. Selanjutnya, tabung obat nyamuk semprot saya lempar ke arah kepala tegak itu. Sial, meleset! Kaleng biskuit adalah senjata saya berikutnya.... Praaanngggg.... Kena! Tapi tidak di kepala, tapi di badan. Saya merasa, tulang belakang ular sudah patah di 2 bagian. Dia pasti kesakitan, tapi saya tak mau kasihan. Saya harus cari alat yang lebih tepat untuk menghajar kepala ular itu sampai mati. Sungguh, saya kejam sekali malam itu. Ketakutan yang teramat sangat memang bisa membuat seseorang menjadi kalap. Contohnya saya. Saya berpikir untuk mengambil sapu yang ada di luar. Gagang sapu saya rasa pas untuk memukul kepala ular yang sanggup berdiri tapi sudah tak bisa merayap itu. Rupanya, kelakuan saya melemparkan barang-barang tadi, terdengar oleh satpam perumahan yang kebetulan lewat. Pak Kumis, begitu biasa dia disapa, sedang berdiri di depan rumah, pada saat saya mengambil sapu. “Ada apa di dalam Pak,” tanyanya sopan. “Ular, Pak Kumis,” jawab saya. Rupanya, Pak Kumis ini sangat bergairah mendengar jawaban saya. Baru saya ingat, bahwa beliau memang seorang pawang ular. Beberapa kali beliau dipanggil warga yang menemukan ular di halaman rumah atau di selokan. Tapi, malam ini, ular ada di dalam rumah. Dan itu rumah saya. Bergegas Pak Kumis masuk dan saya membiarkan dia jalan duluan untuk melihat kenyataan bahwa ular itu sudah ‘dying’ karena keperkasaan saya... (tsaah, sombong betul saya). Tapi Pak Kumis memang sakti. Ular itu ditangkapnya dengan tangan. Lalu dibawanya keluar. “Dibawa kemana Pak,” tanya saya. “Nanti dikubur di deket lapangan,” jawab Pak Kumis. Lapangan yang dimaksud adalah lapangan bulutangkis yang berjarak 2 rumah di sebelah kiri rumah saya. Pak Kumis lalu pamit. Saya mengucapkan terima kasih. Sambil jalan keluar pagar, Pak Kumis berkata,” Biasanya, sodara-sodara ular ini akan datang nyariin yang mati.” “Serius pak?” tanya saya panik “Biasanya sih gitu,” jawab Pak Kumis santai. Pak Kumis berlalu, saya termangu di depan pagar. Merinding saya membayangkan saudara ular yang di bawa Pak Kumis, tiba-tiba masuk lagi ke dalam rumah. Setengah berlari saya masuk rumah, memastikan tidak ada celah yang bisa dijadikan saudara-saudara si ular sendok tadi mencari saya, minta tanggung jawab..... 1 ekor aja sudah panik maksimal, apalagi kalau yang nyari datang keroyokan. Sungguh, malam itu saya tidak bisa tidur. Malam berikutnya, masih sulit mata ini terpejam. Saya tidak tahu bagaimana caranya agar ular tidak lagi masuk ke dalam rumah saya. Namun, saudara-saudara.... kira-kira 2 minggu setelah kejadian pertama, seekor ular kembali masuk ke dalam rumah. Entah dari mana. Warna dan ukurannya sangat mirip dengan ular yang pertama. Cara merayapnya juga sama, melenggak lenggok... yaialah.... mana ada ular berjalan lurus.... Saya ceritakan di kisah ular selanjutnya ya..... to be continued *uhuk* *) gambar dari google Malam ini, melalui twitter, teman saya Ajie Baim di Semarang mengatakan dia terkena biduran, alias bentol-bentol sekujur tubuh, karena alergi udang. Padahal biasanya dia tidak bermasalah dengan makanan laut, termasuk udang. “Padahal tadi baru makan 1,” tulisnya di time line. Iba hati saya. Keponakan saya Fathya juga pernah terserang gangguan yang sama dengan Adjie. Waktu itu, keluarga besar kami mengadakan barbeque’an saat malam tahun baru. Bibir mungil Fathya jadi tebal. Begitu juga mata kanannya, bengkak. Fathya yang cantik terlihat seperti petinju selesai bertanding. Tapi untung tidak lama. Setelah minum obat, dan tidur sebentar, bengkak di wajah Fathya mulai menyusut. Cerita soal alergi udang juga pernah dialami teman saya yang lain, Wandy namanya. Wandy menyadari bahwa dia memang alergi dengan sea food. Suatu hari, kami pergi makan di sebuah restoran yang menyediakan menu istimewa berupa ayam bakar dan ikan bakar. Juga ada udang bakar serta cumi bakar. Dipastikan, Wandy memilih ayam bakar dan saya memesan ikan bakar. Saat makan, Wandy terlihat gelisah. Bibirnya memerah. Rupanya alerginya kambuh. Dia curiga, alat yang digunakan untuk membumbui ayam bakar, digunakan juga untuk memberi bumbu ikan bakar. Karena tahu dirinya sensitif, Wandy selalu siap dengan CTM, obat alergi yang sangat populer, manjur walaupun ukurannya sangat kecil. Sama seperti Fathya yang butuh tidur saat minum obat anti alergi, Wandy pun sama. Karena mengantuk, akhirnya acara makan-makan kami dipercepat karena Wandy sudah sangat mengantuk. Terkadang, sumber alergi bisa diketahui dengan pasti. Saat badan mulai gatal-gatal, merah dan mulai biduran atau bentol-benol, biasanya yang terpikir adalah tadi makan apa ya? Padahal, tidak selamanya alergi disebabkan oleh makanan. Juga, tidak melulu alergi menyebabkan bentol-bentol, bukan? Sejauh ini, saya tidak memiliki alergi terhadap makan apapun. Alhamdulillah. Tapi bukan berarti saya tidak pernah alergi, lalu bentol-bentol. Kejadiannya sih sudah lama. Waktu itu, penyebabnya adalah debu kantor yang sedang renovasi. Jadi banyak partikel-partikel halus berterbangan. Barangkali, kondisi saya saat itu tidak fit, sehingga menimbulkan rasa gatal, merah dan bentol-bentol. Obatnya kala itu CTM. Manjur sekali. Tapi ngantuknya luar biasa. Padahal saya harus segera berangkat ke Bogor untuk mendongeng di salah satu toko buku. Dalam perjalanan, untungnya saya bisa tidur lelap. Dan saat bertemu anak-anak, saya lupa soal amerah, gatal dan bentol-bentol sebelumnya. Anak-anak memang bisa menyembuhkan J *) gambar dari google
|
|  | Tidak ada niatan awal ke Lokasi Masjid Emas di Depok ini. Awalnya nyasar. Tapi tiba-tiba melihat papan petunjuk arah ke lokasi ini. Tidak ada penyesalan sampai di sana, Mesjid ini sungguh cantik.
|
|
|  | Beberapa kali jalan-jalan, mampir ke beberapa Masjid. Diam-diam foto2.... Ini dia :) |
|
|  | Ini adalah foto Masjid Raya Tangerang. |
|